dJackie(yem?) siTe

zakiya's posts with tag: wajibbaca

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag wajibbaca
ReviewReviewReviewReviewRembulan Tenggelam di Wajah-MuOct 18, '08 10:44 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Tere Liye
nah,ini dia resensi (sekalian numpuk tugas) yang pernah saya janjikan :

Buku karangan Tere Liye ini adalah novel fiksi bertema religi. Dengan cover berwarna hitam dan gambar bulan yang tenggelam di lautan serta gambar dua mata yang menggambarkan sebagian wajah bisa mewakili judul secara sederhana. Tata letak gambar-gambar tersebut sudah tepat. Tulisan judul yang berwarna putih terlihat kontras dengan latar belakang yang berwarna hitam. Di dalam novel ini terdapat beberapa salah cetak berupa halaman yang tercetak dua kali.
Novel ini berkisah tentang kehidupan Ray-begitu ia senang dipanggil. Dimulai dari masa kecilnya selama enam belas tahun yang ia habiskan di panti asuhan. Di panti asuhan ini ia mengalami masa kecil yang kurang mengenakkan. Penjaga panti menyuruh anak-anak panti menghabiskan waktu untuk bekerja. Berbeda dengan anak-anak panti lainnya yang tumbuh tertekan, Ray yang pada dasarnya cerdas justru tumbuh melawan. Semakin lama, pecutan rotan yang tidak menjawab kekritisannnya tentang banyak hal menambah buruk bentuk perlawanan yang ia lakukan. Mulai dari mencuri, menjual paket yang datang ke pantinya, hingga berjudi.
Hingga suatu hari, Ray memutuskan untuk kabur dari panti asuhan, dengan sebelumnya diiringi bentuk pemberontakan puncaknya kepada penjaga panti. Ia memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan berjudi dan tinggal di terminal. Sebuah kecelakaan yang cukup tragis membuatnya terdampar di ibukota.
Kehidupan Ray kemudian berlanjut di sebuah rumah singgah di ibukota. Di rumah singgah ini Ray mulai merasakan bahagianya kebersamaan dan persaudaraan. Ray mulai mengenal optimisme hidup lewat motivasi-motivasi yang diberikan oleh kakak-kakak pengasuh rumah singgah tersebut.
Di bagian ini, pembaca akan menemukan kalimat-kalimat motivasi seperti, ”Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk mengubahnya...Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian” atau kalimat ikrar persaudaraan seperti, ”Kalian akan tetap menjadi saudara di mana pun kalian berada, kalian sungguh akan tetap menjadi saudara...Tidak ada yang pergi dari hati...Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan...Kalian sungguh akan tetap menjadi saudara” serta satu kalimat bijak, ”Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan dari orang lain itu sementara...Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi”.
Selain itu, di rumah singgah ini, Ray tumbuh dengan rasa solidaritas yang tinggi. Hal ini pulalah yang menyebabkan Ray kembali terjerumus dalam naluri lamanya, terjebak dalam pemikiran sempit anak seusianya. Bermula dari rasa tidak terima Ray terhadap perilaku preman jalanan yang memukuli ’saudaranya’ di rumah singgah, Ray mencoba membalas dan ternyata ia berhasil mengerutkan preman-preman tersebut. Namun, masalah ini rupanya diikuti dengan masalah-masalah serupa--balas dendam komplotan preman yang terjadi beruntun, dan akhirnya menjadikan satu lagi saudaranya sebagai korban.
Tidak tahan dengan kenyataan yang ada, di samping bosan dengan nasihat-nasihat yang diberikan, Ray memutuskan untuk pergi dari rumah singgah, kabur. Ia kemudian menyewa sepetak kamar dan memilih menjadi pengamen, yang sebelumnya rutin ia lakoni selama tidak ada jadwal sekolah informalnya ketika masih di rumah singgah.
Kehidupan Ray terus berlanjut. Ia bertemu dengan Plee. Bersama Plee sebagai otaknya, Ray turut berperan dalam penculikan berlian seribu karat. Saat itu yang ada dalam pikiran Ray hanya satu, ”apa salahnya menjadi orang jahat”. Rencana yang telah disusun sedemikian matang ternyata masih ada sedikit celah untuk gagal. Ray tertangkap mata salah seorang petugas. Beruntung mereka berdua masih bisa kabur dari tempat eksekusi berlian tersebut, dengan sepotong peluru di paha Ray.
Pembaca akan diajak serta untuk merasakan tegangnya pelaksanaan eksekusi rencana mereka. Penceritaan secara narasi dengan deskripsi yang mendetail meski sedikit dibubuhkan gaya hiperbola dalam satu dua kalimatnya seperti, ”Mengaum di tengah deru bulir hujan membuncah kota,” membuat pembaca paling tidak mampu membayangkan peristiwa menegangkan tersebut.
Berbagai alasan yang turut melibatkan masa lalu cukup kompleks membuat Plee akhirnya menyerahkan diri pada polisi yang akhirnya mengepung persembunyian mereka. Beberapa tahun kemudian Plee dihukum mati. Ray lagi-lagi tidak tahan melihat kenyataan pahit dalam kehidupannya ini memutuskan menjauh dan kembali ke kota di mana Ray kecil dulu dibesarkan, kota di mana panti asuhan itu berada.
Ray mencoba melupakan kenangan masa lalunya. Ia mencoba menata kembali kehidupannya. Ia mulai dari menjadi pekerja bangunan yang tidak membutuhkan syarat keahlian maupun ijazah. Ray yang merupakan seorang pembelajar cepat didukung dengan rajinnya ia bekerja, segera mendapatkan promosi menjadi mandor. Tak lama kemudian ia ’naik pangkat’ lagi menjadi wakil kepala mandor.
Tips-tips menjadi pemimpin yang baik sedikit demi sedikit dimasukkan Tere Liye mulai bagian ini. Pengaplikasiannya secara nyata digambarkan Tere Liye dalam aktivitas Ray. Ide Ray mengenai kompetisi sepak bola antar pekerja kontruksi bangunan yang ia katakan dalam evaluasi bersama pemilik gedung, ”Membiarkan pekerja bersenang-senang secara proporsional membuat semangat kerja mereka membaik! Tidak ada yang bisa mengalahkan produktivitas pekerja yang semangat kerjanya tinggi,” bisa menjadi salah satu contohnya.
Di samping itu, Ray diceritakan mendapatkan cinta pertamanya yang kemudian menjadi istrinya. Perjalanan Ray menjadi mandor diiringi dengan perjalanan mendapatkan cintanya pula. Ray mulai membangun keluarganya ketika karirnya mulai menanjak. Kehidupan Ray dan keluarganya pun membaik, meski sempat tersandung dengan keguguran kandungan pertama istrinya. Setelah itu, semua berjalan normal hingga di kehamilan kedua istrinya, lagi-lagi diakhiri dengan keguguran. Namun, yang membedakan adalah, tak lama sesudah proses operasi istri Ray ikut pergi--meninggal.
Di akhir hidupnya, istri Ray menangis, bertanya tersengal kepada Ray, “Apakah kau ridha kepadaku?” Ray yang bingung sepat membuat istrinya menunggu. Akhirnya, istri Ray pergi diantar oleh anggukan Ray. Di sini pembaca disuguhkan dengan adegan kepergian yang indah. Sampai di bagian ini usai sudah Tere Liye menggambarkan perwujudan sepotong nasihat :Istri yang ketika meninggal dan suaminya ridha padanya, maka pintu-pintu surga dibukakan lebar-lebar baginya.
Ray memutuskan pergi kembali ke ibukota setelah kepergian istrinya. Memulai karir barunya sebagai pemilik imperium bisnis bermodalkan berlian seribu karat yang ternyata dulu sempat disimpankan Plee di suatu tempat. Bisnisnya sukses, dan Ray mulai dikenal sebagai aktor bisnis yang pandai mengendalikan relasi bisnisnya. Jatuh bangun mengelola bisnis serta menjadi korban persaingan tidak sehat dalam bisnis Ray alami.
Akhirnya, satu cita-citanya sejak bekerja di konstruksi bangunan tercapai. Membangun gedung tertinggi, 101 lantai. Tidak puas dengan apa yang sudah ia dapatkan, Ray merambah bisnis-bisnis yang lain. Semakin menanjak hidupnya justru ia semakin merasakan kekosongan dalam hidupnya. Perasaan kecewa terhadap relasi bisnis pada umumnya yang cenderung ‘pasang muka’ membuat Ray yang telah terjebak dalam kehampaan memutuskan untuk mematungkan diri terhadap pekerjaan.
Satu hal yang tidak pernah berubah sejak ia tinggal di panti asuhan, yaitu kebiasaannya memandangi rembulan dan mengagumi ciptaan-Nya yang satu ini. Seburuk apapun Ray mengutuk kehidupannya, ia selalu berterima kasih pada Tuhan setiap kali memandang rembulan. Karena rembulan pula ia yakin bahwa pasti ada sepotong bagian yang menyenangkan, sesuatu yang lebih indah daripada menatap rembulan—meski ia tidak tahu bahwa itulah janji Allah untuk menatap wajah-Nya kelak. Inilah yang membuatnya mendapatkan kesempatan untuk mengenang masa lalunya, dan memdapatkan pemahaman atas kehidupannya.
Cerita ini dikisahkan melalui sudut pandang orang ketiga serba tahu dan dirangkai dengan alur mundur atau flashback. Di prolog cerita, pembaca akan memasuki sebuah kehidupan yang terkesan tidak ada hubungannya dengan cerita selanjutnya. Setelah bab prolog ini, pembaca akan dibawa melesat jauh memasuki petualangan mengenang masa lalu kehidupan Ray. Dalam perjalanan inilah Ray mendapatkan penjelasan atas kehidupannya. Selain itu, sesekali dalam perjalanan ini Ray dibawa melihat peristiwa di balik kehidupannya atau peristiwa orang lain yang berkaitan dengan kehidupannya sendiri. Di akhir cerita-yang termasuk dalam akhir perjalanan mengenang masa lalu Ray, pembaca dibawa kembali melesat ke cerita di prolog novel disertai dengan penjelasan hubungan di antara kedua cerita tersebut.
Gaya Tere Liye yang khas muncul dalam pengisahan di novel ini. Bahasanya sederhana, mengalir sehingga mudah dipahami. Pilihan katanya tepat, sesekali mengandung makna konotasi. Dalam kalimat-kalimatnya sering ditemui majas personifikasi dan hiperbola. Selain itu dapat juga ditemukan majas paradoks seperti pada kalimat : Gadis kecil itu menatap kosong keramaian di hadapannya. Pendeskripsian suasana dan latar ditulis mendetail sehingga pembaca mudah membayangkan setiap adegannya. Contohnya pada paragraf pertama ditulis :
Malam terang. Langit bersih tak tersaput awan. Bintang gemintang tumpah mengukir angkasa, membentuk ribuan formasi menawan tak terlupakan. Angin malam membelai rambut. Lembut. Menyenangkan. Menelisik. Bernyanyi di sela-sela telinga.
Dalam buku ini, Tere Liye berusaha menawarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam hidup. Di setiap bagian ceritanya selalu disisipi pemahaman mengapa suatu hal terjadi dan mengapa harus terjadi melalui sudut pandang yang berbeda. Tere Liye menawarkan cara menyikapi berbagai macam kegundahan hati atas pertanyaan tentang keadilan hidup, takdir, hubungan sebab-akibat dalam hidup, kehilangan, cobaan dan ujian dalam hidup, sehingga kita bisa menjadi lebih bijaksana.

ReviewReviewReviewReviewbanyakkOct 4, '08 11:43 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Other
Author:banyakk juga
nah,,saya cuma mau merekomendasikan beberapa buku ini untuk anda :
1. Bidadari-bidadari surga : Tere-Liye
2. Rembulan tenggelam di wajah-Mu : Tere-Liye
3. Jalan cinta para pejuang : Salim A Fillah
4. Matahari Odi bersinar karena Maghfi : Neno Warisman

ayo baca!
nahnah,jangan tanya dulu kenapa (yang jelas ya karena buku ini bagus semuaaaaa xp),,doakan saja,,insya Allah dalam waktu dekat ini saya akan mengungkitnya sedikitsedikit....

AYO BACA!!!

ReviewReviewReviewReviewgue never dieApr 24, '08 12:31 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Salim A Fillah
Karangannya Salim A Fillah.hyaaa…merasa familier? Tapi tenang aja, di buku ini beliau gag menekankan nikah dini kok. Atau justru yang pengin dibaca tentang nikah dini??hehhe,,kalo saya sih enggak.

Buku ini lebih nekanin caranya buat ngerenin diri. Banyak banget tips2nya.udah gitu ada contoh list target yang musti kita capai di tiap bab-nya. Trus juga ada kisah-kisah nabi n para sahabatnya yang patut dijadiin contoh supaya kita bisa mencapai target utama, yaa..itu,,jadi keren!

Satu lagi poin plus2 yang bikin saia suka ma buku ini (selain kata-katanya yang puitis banget,banyak perumpamaan2 yang bikin saya harus mikir kalo baca buku ini), designnya keren!!uwaaaa…pengin bisa me-design kayak gitu…..huhuuuu

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help